Oleh:

Agung Widodo dan Vita Fradiantika

Universitas Negeri Yogyakarta

 Image

ABSTRACT: Every human in this world would ever have a problem. As we get older, the problems facing increasingly numerous and complex. To face and solve the problem needs courage and decisiveness in taking a decision. It is closely related to one’s personality and character. Character will affect a person’s psychological motivation in determining the policies and goals. Have often heard that the sport can build character. Through sport people find joy and fulfillment as well as having the maturity of the personality through experiences in sports. Through sport people find excitement and fulfillment as well as having the maturity of the personality through experiences in sports. Sports games provide a space to socialize with others because sport is played by team. Football as one of the most popular game in the world has some character value contained therein. Through football game, the values of characters that are quite valuable can be used in carrying out the role in the association in the community. By conducting the football game would nurture social attitudes in a positive among others. Those are unyielding spirit, the greatness of the soul to accept victory and defeat, the responsibility to work, struggle and sacrifice, tolerance, cooperation in achieving the goals and spirit to always work hard.

 

Keywords: Character, Sport, Football

PENDAHULUAN

Manusia tidak bisa hidup sendiri, hal ini sesuai dengan kodratnya bahwa manusia sebagai makhluk sosial. Manusia hidup dan berada pada sebuah lingkungan masyarakat. Kedudukan manusia mempunyai arti di dalam lingkungannya apabila di dalam berhubungan dengan manusia lainnya terjalin komunikasi yang baik, saling bantu membantu, hormat menghormati dan bekerja sama. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia di dunia ini pasti pernah menghadapi masalah. Seiring dengan bertambahnya usia, maka masalah yang dihadapi semakin bertambah banyak dan kompleks. Untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan diperlukan keberanian dan ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan. Hal ini berkaitan erat dengan kepribadian dan karakter seseorang. Karakter akan mempengaruhi psikologis seseorang dalam menentukan kebijakan dan memotivasi daya cita.

Selama ini sering terdengar bahwa olahraga dapat membangun karakter seseorang. Olahraga dan aktivitas fisik adalah salah satu cara bagi seseorang untuk meningkatkan kebugaran serta mengoptimalisasikan fungsi organ-organ tubuh. Namun demikian, selain untuk tujuan di atas olahraga serta aktivitas fisik dapat pula dijadikan sarana bagi seseorang maupun sekelompok orang untuk membangun karakter masing-masing. Seperti diketahui bahwa dengan berolahraga, karakter individu dapat dengan mudah diketahui serta dapat membawa seseorang ke dalam situasi yang lebih baik.

Partisipasi dalam olahraga merupakan bagian gaya hidup sehat yang perlu dikembangkan. Partisipan olahraga mulai dari usia muda sampai tua, dari tingkat permainan untuk tujuan rekreasi sampai tingkat profesional. Alasan keikutsertaan seseorang dalam olahraga sangat beragam mulai dari alasan kesehatan, kebugaran, maupun dengan alasan lain seperti membentuk karakter positif dan sosialisasi. Banyak orang menemukan olahraga sebagai sumber kegembiraan dan kepuasan diri. Tidak diragukan lagi bahwa banyak anak muda mengalami kematangan kepribadian melalui pengalaman dalam olahraga. Namun demikian, efek pasti olahraga pada pembentukan karakter positif sangat ditentukan kondisi-kondisi yang dialami pada saat berolahraga.

Masalah utama olahraga saat ini pada semua tingkatan adalah meningkatnya  perilaku tidak sportif dan kecurangan serta karakter yang negatif. Skandal kecurangan, obat-obatan, kekerasan, saling tidak menghormati dan perilaku-perilaku lain yang tidak sportif. Nilai-nilai positif olahraga, seperti sportivitas, kerjasama, disiplin, kepemimpinan, kejujuran, tanggungjawab dan saling menghormati seharusnya mampu membawa pelaku olahraga kearah pembentukan karakter positif dalam olahraga maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang dimainkan secara tim. Sepakbola merupakan olahraga yang paling digemari di seluruh penjuru dunia. Dari waktu ke waktu permainan sepakbola baik yang bersifat rekreatif. edukatif maupun prestatif telah banyak diselenggarakan di berbagai tempat dan kesempatan dari tingkat anak-anak sampai dewasa dalam bentuk amatir maupun profesional. Melalui permainan sepakbola seseorang akan memperoleh kesempatan dan keuntungan dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah masyarakat. Permainan sepakbola tidak hanya memberikan manfaat untuk fisik dan mental saja, tetapi juga dapat memberikan manfaat secara sosiologis bagi pelakunya. Permainan sepakbola dapat menjadi wahana dalam pengembangan berbagai aspek kehidupan manusia termasuk di dalamnya adalah pengembangan nilai-nilai karakter,  fair play, dan sportivitas.

PEMBAHASAN

Karakter

Karakter dan sportivitas itu sulit untuk didefinisikan secara pasti, sehingga terdapat beberapa pendapat dan definisi. Seseorang yang berkarakter memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, jujur, dapat dipercaya, adil, hormat, dan bertanggung jawab, mengakui dan belajar dari kesalahan, dan berkomitmen untuk hidup menurut prinsip-prinsip tersebut (Dimyati, 2010). Terkait dengan hal tersebut di atas, penulis dapat merangkum definisi tersebut menjadi sebuah pengertian sederhana mengenai karakter, yaitu sebuah cara untuk bersikap secara terhormat kepada seluruh komponen pertandingan. Dalam hal ini seluruh komponen pertandingan meliputi pelatih, lawan, wasit, penonton, dan lain sebagainya terkait dengan pertandingan tersebut.

Menurut Shields dan Bredemeier dalam Robert S. Weinberg., Daniel Gould (2007) menyatakan bahwa meskipun karakter dan sportivitas sulit untuk diartikan, namun sportivitas termasuk dalam wilayah umum moralitas dalam konteks olahraga. Artinya, sportivitas dilakukan dengan keyakinan masing-masing, penilaian, dan tindakan yang menyangkut apa yang benar dan etis dan apa yang salah dan tidak etis dalam olahraga. Secara khusus, Shields dan Bredemeier menyatakan aspek moralitas dalam olahraga terdiri dari tiga konsep terkait yaitu, fair play, sportivitas, dan karakter. Oleh karena itu, karakter dalam olahraga terdiri dari empat kebajikan yang saling terkait yaitu kasih sayang, keadilan, sportivitas, dan integritas.

Karakter itu melekat kuat dan sulit diubah Abdullah Munir (2010). Menurut pendapat penulis karakter senada dengan ciri kepribadian seseorang, sikap-sikap yang ditunjukkan pada saat bertanding di lapangan, maka itulah karakter asli seseorang tersebut. Pada dasarnya sikap yang dimunculkan oleh seorang atlet pada kehidupan yang sebenarnya sudah melekat erat dalam dirinya, sehingga akan sulit bagi pelatih untuk melunturkan sikap tersebut pada saat berada di lapangan. Oleh karena itu, pelatih harus menegaskan kembali pembagian peran kepada atletnya, bahwasanya tugas-tugas yang diembankan sangatlah berat antara satu dan lainnya. Sehingga para atlet akan menyadari hal tersebut sebagai sebuah kerjasama tim yang solid, yang harus melakukan upaya kolaborasi demi tujuan bersama serta harus mengkesampingkan ego-ego pribadi.

 

Fair Play

Fair play berarti semua peserta memiliki kesempatan yang adil untuk mengejar kemenangan dalam olahraga kompetitif, memiliki kemampuan meraih kemenangan melalui sikap yang elegan dan sportif (Armando, 2010). Fair play mensyaratkan bahwa semua kontestan memahami dan mematuhi tidak hanya kepada aturan formal dari permainan tetapi juga aturan main yang tidak tertulis (Shields&Bredemeier, 1995) dalam Robert S. Weinberg., Daniel Gould (2007). Sedangkan menurut Amansyah, (2010) fair play merupakan sikap mental yang menunjukkan martabat ksatria pada olahraga. Nilai fair play melandasi pembentukan sikap, dan selanjutnya sikap menjadi landasan perilaku. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fair play adalah  pemberian kesempatan yang sama untuk menang kepada kedua tim yang bertanding. Seluruhnya harus menjunjung tinggi peraturan yang berlaku dan tetap menjaga persahabatan di tengah-tengah besarnya semangat persaingan, oleh karena itu dalam pandangan masyarakat hal tersebut akan memiliki nilai yang tinggi.

Sebagai contoh dalam olahraga sepakbola, setiap pemain pasti ingin menunjukkan kemampuan individualnya saat memainkan bola. Guna menguasai bola, kerapkali harus terjadi benturan fisik saat saling berebut bola di lapangan. Oleh karena itu, bagian terpenting dalam pembinaan pemain muda sepakbola adalah menciptakan karakter yang baik, dimana seorang pemain sepakbola bisa mengendalikan diri dalam keadaan apapun, dan senantiasa bersikap disiplin. Inilah yang menjadi dasar dari perilaku olahragawan atau fair play.

FIFA sebagai organisasi sepakbola dunia, sejak Piala Dunia 1990 sangat gencar mempropagandakan fairplay, dan secara resmi logo fairplay yang dikenal dengan slogan “My Game is Fair Play” diumumkan pada tahun 1993. Sejak saat itu, tradisi pemberian penghargaan kepada insan sepakbola yang dinilai mampu memberikan teladan yang baik bagi masyarakat sepakbola dunia kian gencar diberikan. FIFA kemudian menciptakan “Golden Rule” yang diharapkan bisa menjadi pedoman bagi seluruh insane sepakbola dunia. Armando Pribadi (2010), secara sederhana dan ringkas  mengartikan “Golden Rule” FIFA sebagai berikut:

  1. Jangan bermain membahayakan pemain lawan.
  2. Hormati aturan main dan jalankan dengan baik semua instruksi official.
  3. Hormati lawan seperti selayaknya kolega kita di sepakbola.
  4. Tetap mampu memperlihatkan sikap menjunjung tinggi disiplin, walaupun dalam situasi yang sulit atau tidak mengenakkan.
  5. Berikan dukungan terhadap siapapun yang berupaya mengenyahkan tindakan curang dalam pertandingan.
  6. Tunjukkan perhatian besar terhadap pemain yang cedera dengan segera menghentikan pertandingan dalam situasi apapun.
  7. Jangan pernah punya niat untuk balas dendam terhadap kesalahan yang dilakukan pemain lain.
  8. Main sesuai dengan perintah tiupan peluit wasit.
  9. Rendah hati saat merayakan kemenangan, serta berjiwa besar dalam menerima kekalahan.
  10. Memberikan penghargaan terhadap individu atau lembaga yang secara luar biasa telah menjunjung tinggi sikap-sikap fair play.

Sportivitas

Sportivitas adalah komponen kedua dari moralitas dalam olahraga. Shields dan Bredemeier dalam Robert S. Weinberg., Daniel Gould (2007) berpendapat bahwa sportivitas melibatkan intens berjuang untuk berhasil, komitmen terhadap semangat bermain sehingga standar etika akan lebih diutamakan daripada keuntungan strategis ketika konflik. Sebagai contoh pada pertandingan Liga Utama ke Sembilan  Iran tanggal 28 Januari 2010 antara klub Moghavemat Sepasi  melawan Steel Azin. Tindakan sportif dan fair play yang ditunjukkkan Amin Mutavassel Zadeh, striker klub Moghavemat Sepasi, di saat tinggal menjebloskan bola ke dalam gawang ia malah menendangnya jauh-jauh keluar lapangan, karena kiper Steel Azin tergeletak tak berdaya setelah sebelumnya berbenturan dengan peman Moghavemat Sepasi yang lain. Tindakan tersebut dilakukan agar tim medis bisa memeriksa kiper yang cedera tersebut. Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan Steel Azin 2-1 atas Moghavemat Sepasi, jika Amin Mutavassel Zadeh menjebloskan bola ke gawang, golnya tetap dinilai sah, dan hasil akhirnya tentu berbeda.

Berdasarkan contoh di atas dapat ditunjukkan bahwa atlet menentukan sportivitas sebagai kepedulian dan rasa hormat terhadap aturan main, wasit, lawan, dan tidak melakukan upaya yang curang untuk memenangkan sebuah pertandingan.

Sepakbola

Berdasarkan dokumen sejarah diketahui bahwa permainan dengan menggunakan bola telah ditemukan di Cina pada 2500 tahun sebelum masehi, yang dimainkan oleh tentara Dinasti Han. Beberapa ratus tahun kemudian ditemukan juga permainan sepakbola di Kyoto, Jepang. Berdasarkan hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sepakbola sudah dimainkan manusia sekitar 3000 tahun yang lalu, akan tetapi masih menggunakan peraturan sederhana. Kemudian barulah peraturan sepakbola modern pertama kali dibuat di Inggris pada akhir abad ke-19.

Sepakbola adalah permainan yang selalu menarik bagi siapa saja tidak mempedulikan unsur gender. Setiap manusia di manapun pasti banyak yang memainkan permainan ini. Seperti halnya anak-anak sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi tidak lepas dari sepakbola. Terkadang untuk acara-acara tertentu dari tingkat RT bahkan sampai tingkat dunia permainan ini marak dilombakan. Berbagai kejuaraan telah silih berganti mewarnai perjalanan suatu daerah, bahkan bangsa, serta negara.

Berbicara mengenai sepakbola tidaklah lepas dengan isu-isu terkait dunia persepakbolaan. Dalam permainan sepakbola semuanya bisa terjadi, unsur-unsur karakter seseorang, semangat fair play, serta sportivitas para pemain akan terlihat dengan mudah. Upaya untuk menanamkan sikap-sikap seperti tersebut di atas adalah tanggung jawab bersama, mulai dari pelatih sampai dengan para atlet harus menyadari dan senantiasa menerapkan ketiga konsep di atas baik selama masa latihan maupun pada saat bertanding.

Kualitas bermain yang bagus, kemampuan yang memadai, bahkan postur tubuh yang atletis belumlah cukup untuk menjadi pesepakbola yang unggul. Bahwasanya kesemuanya yang ada di atas adalah kurang lengkap tanpa adanya nilai-nilai yang mendasari pesepakbola sewaktu berlaga di lapangan. Nilai-nilai dasar yang akan menjanjikan keberrhasilan seorang pesepakbola diantaranya adalah karakter, sikap fair play, serta sportivitas yang ditunjukkan saat bermain. Dengan selalu menerapkan ketiga sikap tersebut di atas, seorang pesepakbola akan selalu diingat dan mempunyai ruang di hati masyarakat karena prestasinya yang gemilang.

Pengembangan Karakter, Fair Play dan Sportivitas melalui Sepakbola

Sepakbola sebagai permainan yang dimainkan secara tim harus senantiasa menyatukan taktik dan teknik serta kerja sama tim demi mencapai tujuan bersama. Di samping itu, dalam sepakbola terkandung pula nilai tanggung jawab masing-masing pemain dalam menjalankan peran masing-masing, sehingga harus menyadari posisi dan tugas dan dapat mengesampingkan ego pribadi. Meskipun dalam keadaan yang tidak semestinya seperti saat terjadi peperangan, bencana alam, krisis, dan lain sebagainya sepakbola datang menjadi penghibur di tengah-tengah masyarakat.

Kendati sepakbola dapat menyatukan berbagai perbedaan yang ada di tengah-tengah kehidupan manusia baik kasta, suku, bangsa dan bahasa, namun sepakbola tidak selamanya membuahkan hasil yang manis. Hal ini dikarenakan sepakbola adalah permainan yang keras dan kadang kejam karena perjuangan yang telah dilakukan tidak selalu berakhir dengan kemenangan. Sering perjuangan mati-matian di lapangan hijau itu hanya menghantarkan para pemain dan penonton yang terlibat dengan mereka kepada kegagalan yang pahit dan menyedihkan. Sehingga dalam sepakbola dibutuhkan kebesaran jiwa untuk menerima kegagalan, tekad dan keberanian untuk bangkit meraih kemenangan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sepakbola terdapat nilai-nilai karakter, fair play, serta sportivitas seperti tanggung jawab akan tugas masing-masing, semangat pantang menyerah, saling kerja sama, serta kebesaran jiwa untuk menerima kegagalan di mana nilai-nilai tersebut adalah nilai yang dibutuhkan untuk mencapai hidup selaras, serasi, dan seimbang di tengah-tengah masyarakat.

KESIMPULAN

Upaya untuk menanamkan karakter, fair play dan sportivitas dibutuhkan proses yang sangat panjang, sehingga kesadaran dari dalam diri atlet harus pula menjadi acuan yang kuat apabila ingin menjadi seorang atlet yang berhasil. Melalui olahraga orang menemukan kegembiraan dan kepuasan diri serta mengalami kematangan kepribadian melalui pengalaman dalam olahraga. Olahraga permainan seperti sepakbola menyediakan ruang untuk bersosialisasi dengan orang lain karena olahraga tersebut dimainkan secara tim. Sepakbola sebagai salah satu permainan yang paling digemari di dunia juga mempunyai beberapa nilai karakter yang terkandung di dalamnya. Melalui permainan sepakbola, diperoleh nilai-nilai karakter sebagai bekal yang cukup berharga yang dapat digunakan dalam menjalankan peran di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai upaya menuju keberhasilan menanamkan nilai-nilai karakter, fair play, dan sportivitas, seorang pelatih maupun praktisi olahraga harus memahami bagaimana cara yang tepat untuk melatihkan hal tersebut kepada anak latihnya. Apabila ketiga konsep di atas telah tertanam dalam diri seseorang, maka dalam bertanding maupun kelak hidup di tengah-tengah masyarakat persoalan-persoalan yang ada akan dengan mudah diatasi dan dapat menjalani hidup dengan harmonis.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amansyah. (2010). Olahraga dan Etika Fair Play. Diakses pada tanggal 26 Februari 2012. http://syahaman.blogspot.com/2010/06/olahraga-dan-etika-fair-play.html

Anung Handoko. (2008). Sepak Bola Tanpa Batas. Yogyakarta : Kanisius.

Armando Pribadi. (Desember 2010). Fair Play. Makalah yang disajikan dalam Seminar Nasional Sport Enterpreuneur, di FIK UNY.

Barnawi., M.Arifin. (2012). Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Dimyati. (2010). Peran Guru sebagai Model Dalam Pembelajaran Karakter dan Kebajikan Moral Melalui Pendidikan Jasmani. Yogyakarta: Cakrawala Pendidikan, 85-98.

 

Munir, Abdullah. (2010). Pendidikan Karakter: Membangun Karakter Anak Sejak dari Rumah. Yogyakarta: Pedagogia

Robert S. Weinberg., Daniel Gould. (2007). Foundations of sport and exercise psychology. Human Kinetics Publisher. Four Edition.